Dalam rangka memperingati hari Pahlawan Nasional setiap tahun yang diperingati hari ini (10/11), perlu kita simak sedikit saja apa dan bagaimana persepsi para pahlawan kita di masa lalu yang telah memberi segala hal untuk kita nikmati hingga sampai saat ini.


Ini penting, mengingat nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme telah mulai luntur di beberapa kalangan masyarakat dan pejabat. Ironis, birokrat dan pejabat teras sampai pejabat desa mulai aneh jika bersentuhan dengan kata-kata nasionalisme, penjajahan, kemerdekaan, ibu pertiwi dan heroisme. Sebagian diantara mereka yang telah luntur rasa kebangsaannya itu lebih penting dan utama menambah rezeki dengan berbagai cara ketimbang bicara soal nasionalisme. “Bullshit dengan kemerdekaan dan nasionalisme. Yang penting kenyangkan dulu perut dan pundi-pundi kita” begitulah kira-kira pendapat mereka yang telah kena virus anti nasionalisme.

Sebelum rasa kebanggaan dan kebangsaan turun pada titik terendah, mari kita simak bagaimana salah seorang pahlawan kita mengajak masyarakat untuk mencintai Indonesia raya. Perhatikan salah satu diantara mereka, yaitu Bung Tomo yang disampaikan pada tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Dalam salah satu pidatonya di hadapan umum di Surabaya tersebut ia menyampaikan pidatonya yang berapai-api, menggelegar tanpa basa-basi. Perhatikan bagaimana bung Tomo menggalang persatuan. Pidato yang berdurasi empat menit itu dapat juga pembaca lihat di Youtube (bisa anda ketikkan “pidato bung tomo”).


Lalu sekarang, coba perhatikan salah satu pidato “pahlawan  kesiangan” di siang bolong yang terik lainnya yaitu pidato-pidato para badut-badut politik saat kampanye pemilihan umum. Rasa-rasanya tak pantas memang membandingkannya karena beda situasi dan kondisi. Akan tetapi jika kita berkenan membandingkannya kita akan dapat melihat apa yang ada dalam benak bung Tomo dibanding dengan apa yang ada dalam benak badut-badut politik kita dalam hal kepentingan terhadap bangsa dan negara.

Kepada rayat Indonesia seluruhnya dan kepada rakyat Surabaya khususnya yang telah pernah menjadi saksi hidup dalam arena pertempuran pada tanggal 10 Nopember 1945 kita ucapkan terimakasih yang tiada terkira nilainya atas pengorbanan lahir bathin mereka. Meskipun ada diantara mereka yang meneteskan air matanya tatkala melihat betapa gamangnya nilai kemerdekaan negara kita saat ini akibat badut-badut politik tidak mementingkan nilai-nilai nasionalisme dalam membangun negara ini. Yang ada hanya semakin suburnya korupsi dan melemahnya jati diri bangsa ini.


Kepada siapa lagi kita mengadu? Kepada pahlawan yang masih hidup dan yang telah mendahului kita itu rasanya menjadi tempat mengadu. Potensi hancurnya jati diri bangsa ini semakin menganga selagi para koruptor, bandit dan badut-badut politik tidak habis akal mengeskploitir ibu pertiwi dengan amat rakus dan kejam. Mereka membuat perbedaan yang tajam di perbatasan negara dan di daerah-daerah pedalaman. Mereka membuat negara sibuk mengurus politik murahan, bukan membangun karakter bangsa.

Kendatipun demikian  kita masih yakin, pasti masih ada dan banyak yang konsisten mengurus negara dan bangsa ini. Oleh karena itu kepada mereka semua yang masih hidup dan yang sudah mendahului kita, mari kita ucapkan “Selamat Hari Pahlawan.” Semoga seluruh jasa dan pengorbanan yang diberikan tidak akan sia-sia. Harapan kita semoga rasa nasionalisme dan kebangsaan kita akan bangkit kembali.