Bulan Oktober hampir berakhir. Layaknya bulan yang lain setiap tahun, selalu selesai dengan adanya momentum seremonial kebangsaan. Begitu juga dengan bulan Oktober yang identik dengan romatisme akan Sumpah Pemuda.

Berawal dari semangat pemuda tahun 1928 yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Mereka berkumpul dari berbagai macam etnis bangsa. Hasil keputusan tiga baris seolah meruntuhkan ego kedaerahan pemuda itu. Dalam tiga baris kalimat itu mengakui Indonesia baik dari segi tanah air, bangsa, dan bahasa.


Utang besar bagi Indonesia untuk semua pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda karena kegilaan mereka pada masa silam. Ini seolah melaknat bagi siapapun pemuda dari Sabang sampai Merauke yang mencoba berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembacaan tepat masa silam pemuda dalam mencapai momentum kemerdekaan bangsa, tidak hanya itu ada semacam kemampuan untuk melampaui ekslusifitas untuk bersatu dalam menjawab tantangan zaman.


Pemuda di zaman milenium seolah terkubur oleh zaman. Miskin ide, visi, dan karya untuk meneropong persoalan bangsa dan menemukan pemecahan masalah. Mereka menjadi pemuja kekuasaan dan uang. Tidak jarang juga terlibat dalam aksi kekerasan di kampus, pelaku pembuat vidio porno, bahkan sejumlah isu korupsi yang menempa sejumlah pemuda di negeri ini semakin menegaskan ada krisis identitas dan kepercayaan di tengah carut marut bangsa saat ini. Pemuda hari ini menjelma menjadi jalan paradoks.

Ini yang menjadi penyebab tidak respect rakyat di tengah aksi pergerakan ormas pemuda saat menentang kebijakan pemerintah yang kerap merugikan hajat hidup orang banyak. Belum lagi semakin menterengnya politik fanatik menambah intensitas ekslusifitas ideologi setiap ormas pergerakan kepemudaan. Ekslusifitas ini terpelihara baik dan semakin menjadi akar pemicu konflik. Meminjam perkataan Deng Xiao Ping bahwa bukan masalah apakah kucing itu hitam atau putih, selama dia bisa menangkap tikus.

Belum selesainya proses memahami ke-bhineka-an pemuda kini hingga menjurus konflik berkepanjangan menjadi kesempatan asing merusak tatanan bangsa. Sebuah keniscayaan perubahan itu dari dalam dan juga dari luar. Dalam fisiologi tubuh, ada tekanan onkotik dan tekanan hidrostatik yang kemudian menjadi penyeimbang homeostatis. Perubahan budaya asing semakin memarginalkan budaya asli Indonesia. Tidak heran bagaimana pemuda saat ini sangat mengandrungi budaya asing daripada budaya asli Indonesia. Tidak heran bagaimana Indonesia kini sedang mengalami kritis di semua sendi-sendi kehidupannya.


Dalam tulisan M. Subhan dibahasakan Indonesia memang negeri berwarna akan etnik, bahasa, budaya, adat istiadat, agama, dan kepercayaan. Mereka menyadari perbedaan mereka. Namun, perbedaan itu justru menjadi tali-temali yang saling mengikat. Dengan membawa benang sendiri-sendiri, mereka merajutnya menjadi baju besar bernama Indonesia. Tentu ini sebuah gambaran bagaimana besarnya Indonesia dalam hal keberagaman. Keberagaman yang tentu harus dijaga agar tidak menjadi keropos.

Tantangan Indonesia menurut saya menjadi momentum kebangkitan karena angka usia produktif melonjak. Pertanyaannya siapkah Indonesia khusunya pemudanya menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. Pemuda Indonesia harus bergerak, berpikir, dan produktif karena jikalau tidak, mereka akan tergantikan.