28 Okt 2013

Bulan Oktober hampir berakhir. Layaknya bulan yang lain setiap tahun, selalu selesai dengan adanya momentum seremonial kebangsaan. Begitu juga dengan bulan Oktober yang identik dengan romatisme akan Sumpah Pemuda.

Berawal dari semangat pemuda tahun 1928 yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Mereka berkumpul dari berbagai macam etnis bangsa. Hasil keputusan tiga baris seolah meruntuhkan ego kedaerahan pemuda itu. Dalam tiga baris kalimat itu mengakui Indonesia baik dari segi tanah air, bangsa, dan bahasa.


Utang besar bagi Indonesia untuk semua pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda karena kegilaan mereka pada masa silam. Ini seolah melaknat bagi siapapun pemuda dari Sabang sampai Merauke yang mencoba berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembacaan tepat masa silam pemuda dalam mencapai momentum kemerdekaan bangsa, tidak hanya itu ada semacam kemampuan untuk melampaui ekslusifitas untuk bersatu dalam menjawab tantangan zaman.

Posted on 2:43 AM by Febriananda Wisang

2 Okt 2013

2 Oktober 2009 menjadi tanggal dimana batik Indonesia diakui oleh dunia sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Tepat pada hari ini, 2 Oktober 2013 menjadi tahun keempat dimana UNESCO secara resmi mengukuhkan batik sebagai warisan budaya  yang menjadi milik bangsa Indonesia.


Di Indonesia sebagai negara asalnya, batik memiliki ratusan motif dan ragam batik. Seperti misalnya di Yogyakarta, batik mempunyai namanya masing-masing seperti batik kawung, batik parang rusak,  sida asih, sida mukti dan lain sebagainya dengan berbagai motif yang beragam. Setiap daerah di Indonesia, memiliki corak dan warna batik yang berbeda-beda.

Posted on 8:57 PM by Febriananda Wisang

1 Okt 2013

1 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pancasila, ideologi yang menurut saya sederhana namun sempurna. Ideologi yang senantiasa menang melawan komunis yang bengis. Ideologi fleksibel yang menengahi antara sosialis dan individualis. Serta ideologi yang senantiasa tetap berdiri kokoh meski berperang melawan waktu. Namun saat melihat kenyataan kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini, muncullah pertanyaan akan kesaktian pancasila itu sendiri. Masih saktikah Pancasila?


Pada jaman dulu, bersumber pada orang tua saya, setiap jenjang pendidikan harus mengikuti Penataran P4 alias Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Sekilas memang terdengar membosankan, padahal bila disampaikan secara verbal berikut contoh implementasi dalam kehidupan sehari-hari, mungkin P4 akan lebih hidup dan menarik untuk dipelajari. 

Posted on 12:40 PM by Febriananda Wisang