Disaat semua mata tertuju pada transfer saga yang melibatkan Bale serta efek kedatangannya yang memaksa Ozil merampungkan kepindahan ke Arsenal.  Ada satu nama yang sebenarnya perlu disorot. Dia adalah Ricardo Izecson dos Santos Leite alias Kaka.


As we have know, Kaka adalah seorang trequartista yang pernah berjaya bersama Milan pada interval tahun 2003 hingga 2009. Banyak gelar juara yang ia persembahkan bagi klub yang bermarkas di Milanello ini. Mulai gelar Serie-A, juara UEFA Champions League 2007, hingga kampiun di ajang Piala Dunia Antarklub 2007. Semuanya gelar itu mengerucut pada diangkatnya Kaka sebagai Pemain Terbaik di muka bumi pada tahun 2007 itu juga.

Tapi semua itu seperti hilang ditelan angin ketika Kaka bergabung bersama Los Galacticos. Kaka yang digambarkan sebagai pemain yang sangat kreatif, memiliki visi yang luar biasa dan kemapuan fantastis dalam passing dan dribbling, tenggelam diantara banyaknya bintang El Real macam Ronaldo, Ozil dan Benzema.

Selama di 4 musim Bernabeu, total di semua ajang Kaka bermain sebanyak 120 kali dan mengoleksi 32 gol dan 32 assist. Namun dari 120 laga berbaju putih, Kaka hanya bisa bermain 15 kali secara fulltime. Problem cidera lutut menjadi penghambat karir Kaka di Madrid. Cidera ini juga lah yang memaksanya harus mangkir selama 4 bulan pada Agustus 2010.

Dengan status free transfer serta klausul 5 juta Euro di tahun pertama, kini Kaka telah kembali menginjakan kakinya di San Siro. Bahkan, Kaka berani memotong 60% dari gaji 10 juta Euro per tahunnya di Madrid demi memudahkan proses kepindahannya. Gaji memang menjadi alasan utama Milan mengurungkan niatnya untuk membawa Kaka kembali sejak Januari 2012 lalu.


Secara usia, Kaka memang tidak semuda rata-rata pemain Milan lain. Dengan usia 31 tahun, Kaka hanya kalah dari portiere Cristian Abbiati yang berusia 36 tahun di skuad tim utama. Tetapi berbekal pengalamannya dan nama besarnya, niscaya kepulangannya akan bisa menggelorakan militansi Milanisti.

Namun ada ketakutan dari Milanisti jika Kaka akan bernasib serupa dengan pendahulunya yang kemabli ke Milan, Andriy Shevchenko. Jika dirunut ke belakang saat Sheva kembali ke Milan pada 2008 –setelah 2 musim di Chelsea– ia gagal menampilkan permainan terbaiknya. Apalagi usianya waktu itu terbilang cukup uzur, 33 tahun. Hal yang mirip dengan kasus kembalinya Kaka.

Tentunya, Milanisti menaruh harapan besar kepada Kaka. Skill olah bola hebat yang pernah ia pertunjukan di panggung bernama San Siro tatkala 6 tahun masa baktinya membela Milan di era sebelumnya, diharapkan akan kembali menyihir seantero Italia.


Kini semua itu tergantung kepada si Golden Boy. Akankah ia kembali mencapai masa keemasannya atau malah terpuruk lebih dalam dan perlahan-lahan menghilang.

Adios Espana… Benvenuto e buona fortuna in Italia…