Hari ini genap 8 tahun meninggalnya Munir Said Thalib, seorang pejuang hak asasi yang hidup sederhana, jauh dari kesan mewah sebagaimana pengacara pada umumnya. Keilmuan Munir tentang hukum digunakannya untuk menolong kaum lemah, seperti para buruh dan petani serta para aktifis korban penculikan..


Di buku ‘Keberanian Bernama Munir: Mengenal Sisi-Sisi Personal Munir”, yang ditulis oleh Meicky Shoreamanis Panggabean, Anisa, kakak Munir, bercerita tentang sifat Munir masa kecil, “Munir nggak nakal, tapi kalo diganggu, dia nggak keberatan untuk berkelahi. Tapi nggak pernah inisiatif duluan.” Jamal, adik Munir juga  menceritakan, “Dia itu berantemnya profesional, bukan berantem sembarangan. Berantemnya itu spesifik, dia nggak bisa melihat sesuatu yang nggak benar menurut dia. Dia berani, apa pun risikonya, walaupun berantemnya nggak seimbang


Rupanya memang keberanian melawan penindasan sudah tertanam dari sejak Munir kecil dan terus terpatri hingga dewasa, Munir berani bersuara lantang di depan penguasa melawan semua penindasan, termasuk ketika terjadi penculikan para aktifis yang dilakukan oleh Tim Mawar dari Kopassus yang dipimpin oleh Prabowo Subianto. Munir membeberkan semua kasus penculikan aktifis, tentu saja para pelaku menjadi geram, dan berujung pada pembunuhan dirinya  dengan cara diberikan racun arsenic di minumannya ketika berada di pesawat Garuda tanggal 7 september 2004, menuju Belanda untuk studi master nya.

Banyak penghargaan yang diterima Munir atas semua usahanya yang tak kenal lelah menegakkan keadilan, antara lain penghargaan The Right Livelihood Award di Swedia (2000), sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif dari Yayasan The Right Livelihood Award Jacob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan Kontrol Sipil terhadap Militer di Indonesia.

Begini salah satu isi orasi Munir, ketika melakukan aksi demo atas putusan bebas kasus tanjung Priuk yang menjadi salah satu kasus yang ditanganinya, Munir berdiri di depan gedung Mahkamah Agung dengan sederet pasukan polisi dan dia pun berorasi 

“…mereka merebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembaki rakyat, tetapi kemudian bersembunyi dibalik ketiak kekuasaan… Mereka gagal untuk gagah, mereka gagah hanya di baju. Tetapi di dalam tubuhnya, mereka adalah suatu kehinaan”

8 tahun sudah Munir meninggalkan kita, kasus kematiannya belum juga terungkap, memang sudah ada yang divonis atas kasus ini yaitu Pollycarpus Budihari Priyanto, tetapi masyarakat meyakini otak dibalik kasus ini masih bebas berkeliaran dan hanya keseriusan dari pemerintah saja yang akan bisa menangkapnya… dan hal itu entah kapan akan terwujud.

8 tahun sudah Munir tiada, teriring do’a semoga ampunan dan rahman rahim Yang Kuasa selalu menyertainya di alam sana.

8 tahun kasus Munir ini, semoga menjadikan masyarakan tidak lupa bahwa yang dzolim itu masih ada di antara kita, semoga masyarakat tidak lupa sehingga tidak menjadikan yang dzolim ini menjadi pemimpin Negara kita. 8 tahun kasus Munir… Mari melawan lupa….