"Di sini negeri kami...  
Tempat padi terhampar...
Samuderanya kaya raya...
Tanah kami subur, Tuhan..."


Kelangkaan tempe dan tahu kembali mengejutkan masyarakat Indonesia. Ketidak mampuan pemerintah dalam menstabilkan harga kedelai ditenggarai sebagai biangnya. Hal ini membuat pengrajin tempe serempak melakukan mogok kerja sebagai bentuk protes mereka. Harga kedelai yang semakin hari semakin mahal menyebabkan para pedagang tempe dan tahu selalu saja mengalami kerugian.

Kelangkaan seperti ini bukanlah perkara baru bagi masyarakat Indonesia. This's ironic, Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris berkat kekayaan alam yang melimpah ruah nyatanya tak sangup menyediakan kebutuhan pangan bagi masyarakatnya.

Masalah ini bisa dibilang tak lepas dari kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Negara dengan berbagai kekayaan alamnya ini malah menjadi Negara yang hobi mengimpor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dana sebesar US$ 404,6 juta dikeluarkan oleh bangsa ini untuk mendatangkan komoditas sayur dan buah dari luar negeri selama tahun 2012.

Kebijakan praktis inilah yang secara perlahan justru akan mematikan sektor pertanian Indonesia. Kebijakan ini justru hanya memiskinkan petani-petani lokal dan memperkaya para cukong kapitalis yang bersembunyi dibalik kebijakan ini. Petani lokal bakal sulit menggarap lahan pertaniannya dengan optimal. Jangankan membeli pupuk dan pestisida, untuk membeli bibit unggul saja petani kita sudah kewalahan. Jadi tak heran jika Indonesia hanya dipenuhi dengan lahan-lahan mati.

Peran negara di sektor pertanian amatlah besar. Seharusnya negara menempuh jalan intensifikasi dan ekstensifikasi untuk meningkatkan sektor ini. Intensifikasi dilakukan untuk meningkatkan produktifitas pangan yaitu dengan penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk dan pestisida serta teknik-teknik pembudidayaan tanaman. Adapun ekstensifikasi dilakukan dalam rangka meningkatkan jumlah lahan pertanian, seperti pembukaan lahan-lahan kosong menjadi lahan-lahan yang produktif.

Selanjutnya yang tidak kalah penting ialah menstabilkan sektor pertanian. Hal ini bisa dilakukan jika Negara mampu melindungi para petani dalam hal ekonomi. Petani harus mampu membeli bibit unggul, pupuk, pestisida serta kebutuhan lainnya dengan harga yang wajar, sehingga mereka mampu menjaga kestabilan pertanian negeri ini.

Jika hal ini terealisasikan, kita bisa berharap bahwa kelangkaan serta tingginya harga komoditas pangan seperti kedelai dan bawang tak akan terjadi lagi di negeri agraris ini. Bahkan, bukan hal yang tidak mungkin bagi Indonesia untuk menjadi salah satu Negara pengekspor bahan pangan terbesar di dunia berbekal luasnya lahan potensial Indonesia.