“Darah itu merah jenderal”
Kutipan diatas adalah dialog yang nyaris akan selalu saya ingat bila berjumpa tanggal 30 September. Dialog tersebut adalah dialog film tentang pemberontakan PKI, atau yang dalam buku sejarah kita kenal dengan Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).


Dialog lain yang terkenal dalam film itu adalah saat dimana Aidit menghisap rokok, lalu berucap “jawa adalah kunci”, suatu adegan yang kemudian hari akan dianggap aneh, karena Aidit menurut para saksi sejarah sebenarnya bukanlah seorang perokok, bahkan disebutkan bahwa Aidit adalah seorang yang khatam Al-Qur’an.


Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah sebuah partai yang kuat dan solid dengan tokoh-tokoh yang juga kuat. Komunis pada awal berdirinya bangsa ini bukanlah sebuah hal yang haram, bahkan jika bisa dikatakan bahwa melalui tulisan-tulisan Tan Malaka yang berpaham komunislah, bangsa ini memperkenalkan dirinya ke dunia Internasional. Tan Malaka bukanlah Che Guevara Indonesia, melainkan sebaliknya. Tan Malaka lahir lebih dulu dan mengelilingi dunia lebih luas ketimbang Che Guevara.

Pada tahun 1948, PKI pertama kali melakukan pemberontakan, dipimpin Muso, pemberontakan ini gagal. Namun dalam dua tahun PKI bisa kembali mengumpulkan sel-selnya dan pada pemilu tahun 1955, menjadi pesaing terberat PNI dan Masyumi. Masa setelah itu hingga tahun 1965 adalah masa perang propaganda yang luar biasa bagi negara ini. PKI melalui surat kabar harian Rakyat menggambarkan Ibu pertiwi sedang hamil besar dan akan segera melahirkan, PKI telah bersiap untuk melakukan revolusi, sedangkan di pihak lain Dewan Jenderal mulai beradu kuat dengan Soekarno, ini terbukti saat Nasution sempat mengarahkan moncong meriam ke Istana Negara.


Perang urat syaraf PKI dan Dewan Jenderal mulai semakin panas dengan ide pembentukan Angkatan Kelima, Dewan Jenderal tidak setuju, sedangkan PKI membutuhkannya untuk memperkuat massa dan untuk kampanye ganyang malaysia. Singkat cerita 1 Oktober 1965 dini hari penculikan terjadi terhadap para Dewan Jenderal, mereka dibunuh dan dibenamkan dalam sebuah sumur di Lubang Buaya, Sejarah berbalik, seorang yang tidak terduga sebelumnya muncul, dialah sosok Soeharto.

Penulis merupakan orang yang masih ragu jika Soeharto adalah dalang drama penculikan ini, tapi penulis termasuk orang yang yakin Soeharto adalah orang yang tahu akan tentang rencana ini. Dalam bimbingan Nasution, pada awalnya dia adalah boneka yang dijadikan alat oleh Nasution untuk melawan Soekarno. Soekarno sendiri menyebut duet Nasution-Soeharto ini dengan NATO, sembari menyindir mereka yang merupakan kaki tangan pihak barat, dan ini terbukti saat tahun 1967 Soeharto menandatangani Freeport.


Soeharto yang sebelum 1 Oktober tidak jelas posisi politiknya kini jelas sudah menjadi pembela TNI AD. Walaupun tetap saja selalu mengucapkan kalimat kalau TNI AD berdiri dibelakang Pemimpin Besar Revolusi dan dengan propogandanya yang hebat, mulai dari penampilan foto-foto para jenderal yang dibunuh serta melebih-lebihkan fakta penyiksaan tragedi Lubang Buaya, hingga kampanye hitam yang menuding Soekarno adalah dalang tragedi tersebut serta titik ledaknya yakni tragedi penembakan mahasiswa Abdul Rahman Hakim, membuat Soekarno terdesak lalu diasingkan.

Nasution-Soeharto sendiri, menjadi ketua MPRS dan Presiden RI, namun duet ini seperti halnya dwi tunggal yang lain, berseberangan jalan. Nasution kecewa pada Soeharto sebagaimana yang kita tahu menjadi diktator. Nasution jelas dipenuhi rasa bersalah atas tragedi setelah 1 Oktober. Menurut sejarahwan Bonnie Triyana, Nasution akrab dengan anak Aidit, yakni Ilham Aidit, dan memberinya beasiswa hingga lulus kuliah melalui yayasan yang dikelola oleh istrinya.


Bagaimanapun anggapan masyarakat terhadap sejarah yang masih tertutup ini, sudah sewajarnya kita memperinggati tanggal 30 September ini untuk mengenang para pahlawan Revolusi yang nyawanya terenggut demi kelangsungan Negara ini.