3rd Day
Terbangun dengan pemandangan menakjubkan di apartemen tio, kita bergegas buat siap-siap menuju pusat Islam di Spanyol, Granada. Kita berangkat pagi-pagi kira2 jam 8an menuju stasiun kereta. Soalnya kita berencana transit dulu di Cordoba.

Dari Madrid ke Cordoba makan waktu 1 jam 40 menitan naik kereta ekspres.  Jadwal kereta cepat ke Cordoba ada setiap 1 jam sekali, jadi gak usah khawatir kehabisan tiket. Untungnya tio nyuruh kita bawa visa jadi kita bisa dapet tiket promo kelas turista yang harganya cuma €35/org, bayangin kalo gak bawa, harga tiket jadi €50-60/org.  

Foto Kereta dari Kereta


Sekitar jam 10 pagi akhirnya tiba di Cordoba Central, disini kita cuma stopover buat mengunjungi Mezquita dan Historic town Cordoba, pusat peradaban Islam di Barat pada abad ke-10 dan 11. Dari station kita jalan kaki sekitar 30 menit menuju historic town, menyusuri boulevard botanical garden yang mengarah ke Mezquita-Cathedral di tepi sungai Guadalquivir.

Mesjid Mezquita

Dan target kita ke Cordoba adalah Mesjid Mezquita. Subhanallah (tumben-tumbenan nyebut) ternyata Mezquita indah sekali. Mezquita  dapat dikunjungi sepanjang tahun kata tio, biaya masuk kalo gak salah sekitar €7. Habis itu tio nyewa audioguide yang kalo gak salah harganya €6 buat nemani ngelilingin Mezquita. Sebenernya ada local guide, tapi ya harganya itu bikin mual, kalau gak salah tarifnya sekitar €30.




Gue ngerasa kaya masuk ke dalam peradaman Islam, tapi sayang sekarang masjid ini cuma tinggal museum, hanya untuk diingat sejarahnya  dan dinikmati kemegahannya.  Di tengah museum yang kaya akan arsitektur islam, sekarang di bagian tengahnya dibangun megah gereja katedral. Tempat shalat ditutup, dan relief surat-surat Allah sekarang hanya dijadikan sebagai pameran.  

Setelah puas melihat keindahan islam di Cordoba dan menyempatkan sholat zuhur di sebuah masjid disana, kita balik ke stasiun buat lanjut menuju tujuan sesungguhnya, Granada untuk menikmati peradaban Andalusia. 


Dari Cordoba menuju Granada kami menggunakan bis kira-kira sekitar 5 jam dan harganya pun gak mahal, sekitar €16/org. Sore hari tibalah kita di Granada, cari-cari hotel dan ternyata letak hotel kita dekat dengan pusat kota. Setelah check in hotel, sekitar jam 10 malem, kita jalan2 di pusat kota Granada lihat-lihat toko souvenir sekitar Cathedral dan area Alcaiceria, sejenis bazar dengan deretan toko di dalam gang kecil. Di sekitar Plaza Nueva yang banyak terdapat deretan restoran dan cafe, kita beli kebab plus kentang goreng buat dinner.

Toko kelontong
4th Day
Pagi harinya kita langsung menuju pusat wisata utama yaitu Alhambra. Pusat wisata Alhambra ada diatas bukit, berhubung akses ke Albaycin dan Alhambra hanya berupa jalan kecil yang berliuk-liuk plus menanjak ke atas bukit, kita naik minibus dilanjutkan hiking.

Minibus ke Alhambra

Begitu masuk wilayah Alhambra, kita langsung menuju tempat tiket. Ternyata antrian pembelian tiket udah mengular. Untunglah, tio udah beli tiket online jadi cuma tinggal dituker  tiket masuk yang asli, itu pun tetep  ngantri cuma ngantrinya ya gak terlalu panjang.  Gak sampe satu jam tiket berwarna hijau pun udah ada ditangan gue. 

Jumlah visitor per hari yang diperbolehkan mengunjungi Alhambra ini dibatasi jadi waktu kunjungan dibuat beberapa slot: morning, afternoon & evening. So if you won’t be upset, don’t be dare to come without booked tickets in your hands!

Alhambra

Alhambra adalah nama sebuah kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan bani ummayyah di Granada, Spanyol. Alhambra ini adalah simbolnya kota Granada. Alhambra ini dibangun ketika Islam lagi jaya-jayanya di Andalucia. 

Alhambra ini luas banget dan dibagi beberapa tempat utama yaitu: Alcazaba, Nasrid Palace, Rauda, Medina dan Generalife. Buat masuk area ini bebas waktunya kecuali Nasrid Palace yang waktunya sudah ditentukan. Katanya karena Nasrid palace ini umur bangunannya sudah tua dan ukurannya kecil, makanya dibatasi jumlah pengunjungnya.

Atap Nasrid Palace

Perasaan gue pas memasuki area Nasrid Palace ini acak adul, berdetak kagum. There’s no words  I can say, except Subhanallah, Alhamdulillah and AllahuAkbar  – a truly heaven on the earth… setiap  bangunan sangat detil dengan dekorasinya yang dipenuhi arsitek islam dan kaligrafi arab dan  hiasan-hiasan dinding setiap ruangan, tertulis kamilat  'Wa laa gholibu illa Allah'. Ah pokoknya tempat ini indah dan membawa gue seakan-akan balik ke masa peradaban Islam di Andalusia dulu.

Usai dari Nasrid, kita menyuju The Patio de los Leones yaitu sebuah tempat  pengadilan yang dikelilingi oleh 124 tiang marmer putih yang dindingnya penuh relief islam. Dibagian tengah dihiasi oleh jenis dedaunan. Dan dibagian tengah-tengah tempat peradilan ada air mancur yang disokong oleh 12 singa putih. Tokoh-tokoh dari dua belas singa yang terbuat dari marmer putih itu  sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Dan fountain melambangkan kesejukan. 



Selesai dari Alhambra, kita kembali ke Hotel untuk beristirahat dan sholat sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta malam (tren hotel) menuju Barcelona, berangkat dari Granada Central jam 10 malam dan tiba di Barcelona Sants (main station) sekitar jam 09.30 pagi. Harga tiket tren hotel ini bisa dibilang mahal €92/org, tapi selain bisa saving waktu di jalan, juga saving biaya hotel satu malam. 

Keretanya sangat nyaman dan aman, 1 compatment ada  4 bed (jadi bisa tidur selonjoran atau duduk) dan bisa dikunci, terdapat juga wastafel kecil, dapet paket anduk+odol+sikat gigi, plus hanger buat gantung jaket, dan juga selimut. Ada  juga cafetaria kalau mau beli kopi, teh, sandwich ato muffin dan snack lainnya. So, for the price it’s worth enough.

So that’s my religious experience in Europe’s Islamic City. Bersiap menuju kota terkriminal di Spanyol, Barcelona.

To be continue…