“Keberanianmu mengilhami jutaan hati….
Kecerdasan dan kesederhanaanmu… jadi impian…
Pergilah kau… dengan ceria…
Sebab kau… tak sia-sia…
Tak sia-sia…
Pendekar !!! “

Waktu itu saya masih berusia 10 tahun ketika media massa begitu gencar memberitakan kematiannya, seorang yang disebut sebagai pahlawan HAM Indonesia.  Jujur saja, saya sama sekali tidak mengenalnya, lelaki bertubuh ceking dengan postur yang tidak terlalu tinggi yang identik dengan kumis tebalnya ini oleh orang-orang dipanggil Munir. Yang terbayang-bayang tentang dirinya hanya kumis tebalnya itu, pernah saya mendengar sebuah lagu dari Iwan Fals yang ia ciptakan untuk mengenang perjuangan almarhum.


Lelaki ini bernama lengkap  Munir Said Thalib, dilahirkan di Bumi Indonesia tepatnya di  Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965. Ia meninggal pada 7 September 2004 di Pesawat Garuda Jakarta-Amsterdam yang transit di Singapura. Kematiannya sangat lekat dengan misteri meskipun dari hasil otopsi dapat disimpulkan bahwa penyebab kematiannya karena terkonsumsi racun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum.

Munir, seorang yang tidak mengenal rasa takut dalam memperjuangkan keadilan, meski ancaman yang ia dapatkan karena imbas dari seluruh aktivitasnya dibidang HAM tentu tidak ringan. Berbagai teror serta ancaman kekerasan dan pembunuhan terhadap dirinya beserta keluarganya berulang kali ia terima. Namun begitu ia tetap teguh dengan pendiriannya untuk terus memperjuangan keadilan.

Misteri kematian Munir hingga saat ini masih bergulir, 7 tahun seakan menjadi waktu yang terlalu singkat untuk membongkar misteri ini, dua orang yang sempat ditangkap yaitu Muchdi Purwoprandjono dan Pollycarpus karena diduga terlibat pembunuhan Munir dibebaskan oleh pengadilan (MA) dengan memberi remisi bertubi dengan alasan yang tidak jelas. Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden yang sekarang seolah enggan untuk menuntaskan masalah ini. 

Sia-sia belaka nampaknya harapan kita kepada pemerintah. Namun tak seharusnya kita berputus asa dalam memperjuangkan aksi Menolak Lupa. Malu rasanya jiuka kita tak memperjuangkannya. Bahkan beiau pun hingga ajal menjemput masih tetap dalam kondisi memperjuangkan keadilan. 

7 tahun berlalu, namun Munir tak pernah mati dan selalu berlipat ganda…