“Lewat berita, kau telah pergi. Bagai mimpi buruk tak terlukis, namun siapakah yang harus bertanggung jawab. Kita mau tahu, semua ingin tahu, semua akan tahu, semuaaa.. Semua orang akan tahu…” 
(Blues Untuk Munir – Jeffar L Gaol)

Munir adalah sosok yang sangat inspiratif. Walau postur tubuhnya relative kecil namun memiliki semangat yang luar biasa besar. Membangkitkan semangat untuk mengatakan kebenaran dan berani melawan kesewenang-wenangan. Walaupun untuk konsekuensi tindakannya itu dia harus dibungkam untuk selama-salamanya dengan cara yang sangat amat pengecut oleh melalui konspirasi kelompok yang super pecundang.


Hingga kini kasusnya belumlah jelas siapa pelaku utama dalam pembunuhan ini. Kasus kematiannya seolah menguap begitu saja. Pengabaian kasus Munir merupakan satu diantara banyak kasus HAM lain. Yang terjadi, para aktivis HAM seolah sedang berlomba-lomba dengan orang-orang yang tidak ingin hukum diperbaiki.


Munir Said Thalib nama lengkapnya lahir di Batu Malang, Jawa Timur 8 Desember 1965. Orang tuanya menamakannya “Munir” artinya cahaya. Dengan harapan Munir dapat memberikan cahaya bagi keluarganya. Namun kenyataannya Munir tidak hanya memberikan cahaya sebatas lingkungan keluarga tapi juga telah membakar semangat para para buruh dan petani yang sebelumnya selalu pasrah saat “didzalimi” hak-haknya, dan membuat mereka jadi bangkit saat tahu bagaimana seharusnya mempertahankan keadilan bagi mereka.

Ketika berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Munir aktif sebagai aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pernah menjadi Ketua Senat Fakutas Hukum periode 1988-1989. Setelah lulus Munir bergabung sebagi sukarelawan LBH Pos Malang 1989-1991. Setelah itu Munir bekerja di berbagi LBH seperti LBH Surabaya, LBH Semarang dan LBHI di Jakarta.

Pada tahun 1993 Munir melakukan advokasi dalam kasus pembunuhan buruh Marsinah di Sidoardjo. Gerakan itu ia namai KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Marsinah), yang belakangan menjadi “Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir”.

Diselang waktu antara tahun 1997-1998, 24 aktivis, seniman dan pelajar diculik. Pada Maret 1998 Munir mendirikan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS). Ketika itu Munir mendampingi keluarga ke 24 korban penculikan tersebut. Dan hasilnya pada April 1999 11 anggota Tim Mawar Kopassus dinyatakan terlibat penculikan. Pangkat tertinggi yang dihukum adalah Mayor. Sedangkan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi Purwoprandjono “dibebastugaskan”. Pada tahun 2002 Munir mendirikan lembaga pemantau HAM bernama Imparsial.

Munir pernah mendapatkan penghargaan sebagai “Man of the Year” pada tahun 1998 dari Majalah Ummat, Right Livelihood Award 2000, penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer (Swedia, 8 Desember 2000), Mandanjeet Singh Prize, UNESCO, untuk kiprahnya mempromosikan toleransi dan anti-kekerasan (2000), dan salah satu Pemimpin Politik Muda Asia pada milenium baru (majalah asiaweek, Oktober 1999).

Mei 2004 dengan disponsori oleh ICCO, Munir melanjutkan kuliah S2 Hukum Humaniter Internasional di Universitas Utrecht  dan akan berangkat pada September 2004.

Dari tiga maskapai yang di tawarkan untuknya terbang ke Belanda yaitu Garuda Indonesia, KLM, dan Malaysia Airlines. Munir lebih memilih untuk menggunakan Garuda Indonesia, karena menurutnya selain dapat menguntungkan negara, Garuda lebih “aman”. Namun naas, diatas pesawat “berplat merah” dengan nomer GA-974  harus meregang nyawa pada 7 September 2004. Hasil otopsi jenazah Munir menunjukkan ada kandungan arsenik (bahan berbahaya dan beracun) di lambung, darah dan urin yang berlebihan.

Pada Selasa 7 September 2010 ini, kelompok gabungan LSM, ormas dan organisai mahasiswa yang tergabung dalam “Sahabat Munir” akan melakukan aksi di Istana Negara. Meski aksi mereka nanti adalah aksi ke sekian kalinya yang belum direspon positif oleh pemerintah, KONTRAS, KASUM, dan “Sahabat Munir” tetap merasa perlu melakukannya.

Selain momentum 6 tahun Munir wafatnya munir, aksi juga membawa tema-tema seperti penggusuran di kawasan sekitar Jakarta Utara yang melibatkan Satpol PP, sengketa tanah di Rumpin Bogor yang melibatkan TNI AU-RI, kriminalisasi dan kekerasan fisik terhadap para pekerja dan pembela HAM seperti kasus Bibit-Chandra (KPK), pemukulan aparat kepolisian Jakarta Utara terhadap asisten pengacara dan pengacara LBH Jakarta, kasus pemukulan terhadap Tama (aktivis ICW), kasus pembunuhan terhadap Muhammad Syaifullah (wartawan Kompas).

Ini semua dilakuan agar media massa tidak lupa, masyarakat tidak lupa, kaum intelektual tidak lupa, tokoh nasional tidak lupa, dan dunia juga tidak lupa bahwa pembunuhan Munir dan masalah HAM lainya belum sepenuhnya selesai bahkan cenderung terbengkalai.

Dan aksi kali ini memang terasa spesial selain dari pada pemerintah yang kurang responsive tapi juga dilakuan di bulan Ramadhan dan menjelang lebaran. Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri ditengah rasa lapar dan bayangan akan indahnya berpulang ke kampung halaman. Dan semua tantangan tersebut akan di jawab oleh KASUM dan “Sahabat Munir” bebekal api semangat keberanian warisan Munir yang tak pernah mati.

“Ku bisa tenggelam di lautan. Aku bisa diracun di udara. Aku bisa terbunuh di trotoar jalan tapi aku tak pernah mati. Tak akan berhenti“ 
(Di Udara – Efek Rumah Kaca)